Selasa, 21 Oktober 2008

Mawar Gurun Baru yang Diburu



Ada gebrakan baru di adenium bunga putih yang tak pernah popular mendadak digandrungi peminat. Lebat dan rajin berbunga menjadi daya tarik.

Sejak 2003 silangan berwarna putih sudah hadir di dunia adenium. Namun, 'Dulu, silangan adenium bunga putih hanya jadi pelengkap dan permintaannya biasa-biasa saja,' kata Ir. Slamet Budiarto dari Godong Ijo nurseri.

Tahun ini, mozza muncul untuk membuktikan bahwa tak selamanya adenium bunga putih selalu jadi anak tiri. Hasil buruan Slamet dari seorang penyilang Thailand pada akhir 2007 itu tampil memukau dengan tampilan sama persis dengan eye of the storm. Bentuk kelopak bunga sama-sama membulat dan berukuran besar dengan diameter di atas 8 cm. Hanya beda warna kelopak bunga saja: eye of the storm, pink; mozza, putih.

Rajin berbunga

Kerajinannya berbunga jadi senjata utama menjerat hati para peminat. 'Mozza berbunga lebih awal dan paling rajin dibanding jenis adenium generasi sebelumnya,' katanya. Februari 2008 merupakan kali pertama terlihat deretan adenium kelas A-ukuran kecil dengan diameter batang 3-5 cm- berbunga lebat dan serempak. Itu tidak lain mozza.

Padahal, saat itu adenium-adenium lain masih enggan berbunga lantaran masih banyak turun hujan. Ketika kemarau, pada Mei 2008, deretan mozza tampil paling semarak. Jenis lain tak sebanjir itu.

Mozza mewarisi sifat-sifat induknya. Ibunya, eye of the storm, terkenal karena kelebatan bunganya. Soal kerajinan, mozza malah melebihi eye of the storm. Pertumbuhan mozza lebih cepat daripada eye of the storm. Pada umur yang sama mozza lebih banyak tumbuh cabang sehingga bunganya lebih lebat. Mozza sudah mulai berbunga pada hari ke-45 setelah sambung, sedangkan eye of the storm baru berbunga setelah 2 bulan.

Peach

Tak hanya mozza yang menyeruak pasar di luar prediksi. Dottie-bunga putih keruh dengan semburan pink di tengah-juga menempati jajaran lima besar silangan baru yang paling diminati konsumen. Silangan asal Taiwan itu lebih banyak menarik kalangan pemula lantaran warna yang lembut dan corak sederhana.

Salmona-bunga berwarna putih dengan corong peach-pun jadi andalan. Pada April 2008, thorra, ayala, bonzy, benito dan elexa muncul menyusul mozza, dottie, salmona dan 9 silangan lain yang dirilis Godong Ijo pada Februari 2008.

Bonzi yang paling moncer di antara 5 silangan yang dirilis April 2008 itu, lagi-lagi varian the peach. Bonzi berwarna putih keruh dengan corong peach dan strip merah tegas di tengah petalnya. Itu sesuai dengan prediksi Handry Chuhairy-pemain adenium di Tangerang, tentang varian peach akan naik daun.

Corong kuning
Di Yogyakarta lain lagi. Yang menjadi perbincangan adalah adenium silangan Untari Retno Wahyuni. 'Silangan dengan corong kuning sulit didapat,' kata wanita yang sudah menyilangkan adenium sejak 5 tahun lalu itu. Empat silangannya yang bercorong kuning mekar pada akhir 2007 yakni Kallalia, yu mi ko, patrick dan first day.

Kallalia bertepi merah dengan strip pada petalnya sangat tegas, mirip brave heart. Hanya saja corong kallalia lebih kuning dengan petal tengah putih yang lebih kentara.

Sementara first day, petal dominan putih dengan garis sembur yang sempit tapi tegas. Tari menggunakan painted lady jadi tetuanya. Dengan tetua ini pula, pemilik Omah Ijo itu berharap bisa menghasilkan adenium berpetal putih yang lebih bersih.

Silangan-silangan baru si mawar gurun seolah tak ada habisnya, pantas jika penggemarnya tak pernah bosan untuk terus berburu. (Nesia Artdiyasa)

Majalah TRUBUS edisi 463 xxxix Juni 2008

Jumat, 11 April 2008

Budi Luhur Adenium Contest

Ada pemandangan menarik di lapangan Futsal Universitas Budi Luhur, Tangerang, pada hari Minggu 6 april 2008 lalu. Tampak deretan tanaman adenium berjajar rapi menampilkan pesonanya dalam kontes yang diselenggarakan oleh Universitas BudiLuhur bekerjasama dengan komunitas milis : Adeniumania@yahoogroups.
Tidak seperti kontes tanaman Adenium pada umumnya, disini dilombakan kelas-kelas yang tidak pernah dilombakan seperti kelas bongol A, yang adenium yang diameter bonggolnya kurang dari 5cm, juga ada kelas Aku Sehat Kembali, yaitu adenium yang pernah sakit atau pernah membusuk bonggolnya, tapi bisa pulih dan menjadi bentuk-bentuk yang tidak biasa.

“ Ini adalah kontes yg sama sekali tidak melibatkan pakar adenium sbg juri, karena ini memang "GAYA KAMI" juri kita ambil dari masyarakat media "WARTAWAN dan CELEBRITIES" jadi yg seringkali juara di pentas nasional belumlah tentu bisa berjaya disini, karena bisa jadi penilaian disini sangat subyektif tergantung selera juri. Justru di sini fair play itu di buat...GUNA MEMFASILITASI "masyarakat awam" maupun new hobbist berani ikut kontes “ jelas Dicky Andrianto ( mbah Suro ) ketua panitia kontes Budi Luhur.

Juri dipilih dari kalangan wartawan dan selebriti yang menyukai tanaman yang terkenal dengan bentuk bonggol yang unik dan berbunga warna-warni ini, proses penilaiannyapun tidak mengikuti standar nasional, tapi lebih ke kesan pertama juri saat melihat. Sebut saja, Mona : Members Milist ini sekaligus penulis di Majalah Rumah, buku aglaonema dan adeniumpun telah ditulis di majalah itu, Gilbert: Yang seneng nonton bola, apalagi yg tukang taruhan bola, pasti tidak asing dgn cowok ganteng ini, dia presenter bola di RCTI. Rudy: Pelanggan majalah Flona tidak akan asing dgn mas yg satu ini, Darojatun: Wartawan Senior Tabloid Bola, dia mewakili kaum lelaki yg gila bola dan kini beralih gila bonggol dan Henri: Wartawan Senior Majalah Wanita Nova, beliau sangat paham ttg keindahan dari kacamata para ibu..

Dan pastinya dengan terselenggaranya event semacam ini, makin banyak lagi pemula-pemula penggemar adenium yang lebih berani memamerkan tanaman kesayangannya.


PEMENANG KONTEST











BUNGA RIMBUN - Handy Octavianus
BUNGA WARNA WARNI - Ajar Setiadi
BUNGA INDONESIA - Herry Sulistyo
BUNGA ORIGINAL - Herry Sulistyo
BONGGOL A - Dewa Ganesha Swara
AKU SEHAT LAGI - Fariz Nurhuda
ALAMI - Mohamad Kahfi
BONGGOL BESAR - Yugi Setyarko
ARABICUM RCN<15cm - Sardjono Hadisusanto
ARABICUM NON RCN<15cm - Rudi Otto
THAI SOCO - Herry Sulistyo.
COMPACTA - Dicky Bhakti
VARIGATA - Bama Van Abri
LANGKA - Yadi Setiadi
THE BEST ADENIUM IN SHOW - Rudi Otto

Rekan, saya mengucapkan selamat untuk mas Krisnata, mas Sigit, mbah Suro, kang Rohmad dan seluruh panitia Budi Luhur kontes , yang telah menyelenggarakan satu even kontes yang sukses dan meriah.

Selamat juga untuk para pemenang kontes, terus giat mengikuti kontes-kontes selanjutnya, semoga terus menyabet bermacam juara.

Lihat juga liputan lengkap kang Bama di Kompas TV.

Kamis, 27 Maret 2008

Beda Morfologi satu Genus

Apakah mungkin meskipun satu genus, kedua spesies yang morfologinya berbeda bisa disilangkan? Dikatakan, syarat individu yang bisa disilangkan memiliki jumlah kromosom yang sama. Tapi apakah jumlah kromosom sama diekspresikan oleh morfologi yang serupa?

Persilangan di atas dimungkinkan terjadi. Dan bukantah perbedaan (termasuk perbedaan morfologi) tersebut justru yang menjadi daya tarik saat melakukan persilangan ? Dengan harapan diperoleh hybrida yang punya paduan sifat dari kedua induknya.
Lebih jauh, dalam dunia anggrek bahkan dikenal adanya persilangan antar genus (intergeneric hybrids).
Dikatakan, syarat individu yang bisa disilangkan memiliki jumlah kromosom yang sama.
Syarat persilangan adalah terdapat ‘kromosom homolog’, agar proses meiosis dapat berlangsung normal dan gamet dapat hidup.
Syarat “jumlah kromosom harus sama” sebenarnya adalah kerancuan yang timbul dari kenyataan, bahwa pasangan induk yang beda jumlah kromosomnya akan menghasilkan anakan (hibrid) yang mandul (steril).
Namun keadaan tersebut dalam dunia pertanian malah dimanfaatkan untuk tujuan tertentu. Misal : menghasilkan tanaman “semangka tanpa bijih”.
Semangka tetraploid (4n) X semangka diploid (2n) = semangka tanpa bijih (triploid, 3n). Menghasilkan hibrida steril hingga tidak dapat dipebanyak lagi oleh pihak lain.
Catatan : syarat harus ada kromosom homolog, tidak berlaku dalam “biologi molekuler”. Dengan kecanggihan bioteknologi dapat diciptakan hibrida baru meski tanpa kromosom homolog.
Tapi apakah jumlah kromosom sama diekspresikan oleh morfologi yang serupa?
Rumus bakunya, fenotipe = fungsi dari gen (G) dan lingkungan (E). Artinya, yang menentukan morfologi mahluk hidup adalah gen, bukan kromosom. Sementara memang gen adalah urutan perintah yang ada di dalam kromosom. Jadi dapat saja terjadi jumlah kromosom sama tapi dalam kromosom tersebut punya kode genetik yang lain. Hal ini akan memberi morfologi yang beda tentunya, meski makhluk tersebut punya jumlah kromosom yang sama.
Contoh : ayam (Gallus gallus) dan anjing (Canis familiaris) punya jumlah kromosom yang sama = 78.

Semoga bermanfaat.